![]() |
| Masjid Baiturrahman yang aman dari banjir. source. redaksiku.com |
Di beberapa wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang, banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghantam fasilitas ibadah. Sejumlah masjid mengalami kerusakan pada halaman, dinding luar, atau sistem kelistrikan akibat tingginya debit air. Namun menariknya, sebagian besar bangunan masjid tetap berdiri kokoh dan masih dapat difungsikan. Warga memanfaatkan ruang utama masjid untuk berteduh, menghangatkan diri, serta menyimpan barang-barang yang berhasil diselamatkan. Banyak keluarga yang menghabiskan malam di lantai masjid, sementara relawan dan takmir menyediakan kebutuhan dasar seperti air minum, selimut, serta makanan siap saji.
Di Banda Aceh dan beberapa kota besar lainnya, masjid bahkan berperan sebagai pusat distribusi energi. Ketika aliran listrik padam di beberapa kecamatan akibat gardu distribusi terendam, beberapa masjid yang menggunakan genset membuka akses listrik bagi warga. Banyak masyarakat yang datang hanya untuk mengisi daya telepon genggam agar tetap dapat terhubung dengan keluarga, memantau kondisi terkini, atau menghubungi petugas penyelamat. Masjid juga menyediakan titik pengisian air bersih dari tangki yang didatangkan oleh relawan, sehingga masyarakat yang rumahnya tidak lagi memiliki akses air tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar.
Upaya pemulihan dan bantuan untuk masjid terus mengalir. Kementerian Agama Aceh menurunkan tim relawan dan tenaga kebencanaan untuk membantu membersihkan masjid-masjid yang dipenuhi lumpur serta memeriksa kondisi sarana ibadah yang rusak. Sejumlah pesantren dan dayah yang terdampak banjir besar juga mendapatkan bantuan logistik, terutama untuk para santri yang terpaksa dievakuasi karena asrama terendam. Pada saat yang sama, organisasi kemanusiaan, lembaga sosial, dan masyarakat Aceh sendiri menunjukkan solidaritas kuat dengan gotong royong membantu pembersihan halaman masjid, memperbaiki saluran air, hingga memasak makanan bagi para pengungsi.
Meski demikian, tantangan besar masih mengadang. Banyak desa di wilayah pedalaman Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur masih terisolasi karena akses jalan rusak atau tertutup material longsor. Kondisi ini membuat bantuan ke masjid dan posko warga di daerah tersebut sulit dijangkau. Beberapa relawan yang berusaha masuk harus menggunakan perahu karet atau memutar melalui jalur alternatif yang membutuhkan waktu panjang. Pemerintah daerah pun telah menetapkan status darurat bencana hingga 11 Desember 2025 untuk mempercepat mobilisasi bantuan, memperbaiki akses jalan, serta memastikan fasilitas ibadah dan pendidikan keagamaan dapat kembali berfungsi setelah masa tanggap darurat berlalu.
![]() |
| Masjid Baiturrahim yang aman dari tsunami Aceh 2004. source google.com |
Di tengah badai dan kepungan banjir, masjid-masjid di Aceh kembali menjadi simbol keteguhan dan harapan. Bagi banyak warga, masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang aman tempat mereka berkumpul, saling menguatkan, dan menata ulang hidup setelah bencana. Di lantai masjid yang sederhana itu, cerita ketangguhan Aceh sekali lagi lahir: cerita tentang masyarakat yang saling menjaga, tentang semangat gotong royong yang tidak pernah padam, dan tentang keyakinan bahwa setiap musibah pasti membawa kesempatan untuk bangkit lebih kuat. Dengan dukungan pemerintah, relawan, dan masyarakat, masjid- masjid di Aceh perlahan mulai dipulihkan—dan tetap menjadi benteng harapan bagi ribuan jiwa yang sedang berjuang melewati masa krisis.
Penulis : Naila Faisha Khofifah

